Showing posts with label Catatan Wandy. Show all posts
Showing posts with label Catatan Wandy. Show all posts

Tuesday, 3 January 2017

Pemimpin Berharap Banyak Perubahan Pada Tahun Baru

 SOLOK, SN-
            Para tokoh masyarakat dan pemimpin di Kabupaten Solok, berharap agar Tahun baru 2017, membawa harapan baru untuk kemajuan Kabupaten Solok dibanding pada tahun 2016 lalu. Bahkan Bupati Solok sendiri, H. Gusmal Dt Rajo Lelo, SE, MM, sangat ingin Kabupaten Bareh Solok yang dipimpinnya bisa kembali menjadi daerah tujuan study banding bagi Kabupaten/Kota lain di Indonesia, seperti yang terjadi sekitar 10 tahun silam.
            “Jelas kita berharap agar tahun 2017 ini, akan jauh lebih baik dari pada tahun 2016 silam. Kalau bisa, kita menginginkan Kabupaten Solok menjadi Kabupaten terbaik dari yang baik. Tentu hal itu tidak gampang kita raih. Namun kalau dengan bersama, baik DPRD, tokoh masyarakat dan SKPD serta seluruh eelmen yang ada di Kabupaten Solok dan perantau mau membangun dengan kebersamaan, maka hal itu pasti akan terwujud,” jelas Bupati yang murah senyum ini. Bupati Gusmal juga mengajak seluruh walinagari, KAN, BMN dan masyarakat, untuk mensukseskan program ‘Maghrib Mengaji dan Subuh Berjamaah’ yang sudah di lounching beberapa hari lalu serta mendukung ‘Program Empat Pilar’ yang diusung Bupati dan Wakil Bupati Solok lima tahun kedepan. “Kalau dengan bersama kita pasti bisa dan kita menginnginkan Kabupaten Solok menjadi daerah tujuan wisata di masa mendatang,” terang H. Gusmal.
            Ketua DPRD Kabupaten Solok, H. Hardinalis Kobal, SE, MM, juga optimis bahwa tahun 2017 jauh akan lebih baik dari Tahun 2016 lalu. “Saya melihat komitmen Kepala Daerah untuk menjadikan Kabupaten Solok menjadi Kabupaten yang lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya tampak serius. Untuk itu kita di DPRD pasti akan mendukung, termasuk menuntaskan pembangunan Taman Hutan Kota Terpadu yang sempat terlantar hampir 10 tahun. Selain itu, Program Empat Pilar jelas akan pro kepada masyarakat,” jelas H. Hardinalis. Sementara Ketua LKAAM Kabupaten Solok, H, Syafri Dt Siri Marajo, SH, juga optimis bahwa di Tahun 2017 ini, Kabupaten Solok akan mengalami banyak kemajuan, terutama masalah pembangunan fisik dan non fisik, seperti pembangunan mental yang diusung Bupati Solok. “Kita jangan hanya bicara diatas kertas saja, tapi kita kalau mau berubah, cepatlah bangki. Sebab tidak ada yang akan merubah Kabupaten Solok, kecuali kita masyarakat dan pemerintahan Kabupaten Solok mau merubahnya bersama-sama. Masak kita kalah oleh Kabupaten lain seperti di Riau yang baru banyak Kabupatennya baru dimekarkan tapi maju pesat. Tinggal tergantung niat dan kemauan kita bersama, terutama bagaimana menarik investor dan memanfaatkan peran para perantau  yang sukses di luar daerah,” jelas H. Syafri Dt Siri Marajo, yang juga mantan Ketua DPRD Kabupaten Solok.
            Sementara Ketua Forum Walinagari (Forwana) Kabupaten Solok, Syamsul Azwar, juga optimis bahwa duet kepemimpinan Gusmal-Yulfadri Nurdin, akan mampu mempoles Kabupaten Solok dan jauh lebih baik dari tahun 2016 silam. “Sebagai ujung tombak pemerintahan, para walinagari yang ada di Kabupaten Solok pasti akan mendukung program Bupati dan Wakil Bupati yang dikenal dengan empat pilarnya. Apalagi saat ini beliau akan fokus membnagun mental dan fisik di Kabupaten Solok,” terang Syamsul Azwar. Sedangkan Ketua Bappeda Kabupaten Solok, H. Dusral juga menilai apa yang sudah di konsep oleh pemerintah dan masyarakat, tentu harus didukung oleh semua elemen, baik itu DPRD, LSM, Wartawan, Pemerintahan nagari dan juga niniek mamak. “Kalau dengan berama, kita pasti bisa dan Tahun 2017 kita optimis akan lebih baik dari tahun lalu,” jelas Dusral.

            Harapan yang sama juga disampaikan oleh Wakil Bupati Solok, Yulfadri Nurdin, SH. Bahwa komitmen untuk merubah Kabupaten Solok, jelas merupakan sudah kewajiban pemerintah dan masyarakatnya. “Jadi kalau kita mau berubah kearah yang baik, maka mari bersama ayunkan tangan dan langkahkan kaki untuk perubahan. Saya berharap agar tahun baru 2017 akan membawa perubahan bagi Kabupaten Solok,” pungkas Yulfadri Nurdin (wandy)

Thursday, 24 November 2016

Dari Tiga Pilar Menuju ke Empat Pilar

Oleh: WANDY


Dari Tiga Pilar Menuju ke Empat Pilar

            VISI dan Misi Bupati dan Wakil Bupati Solok untuk membangun Kabupaten Solok dengan Program Empat Pilarnya, akan bisa berjalan kalau didukung oleh SKPD, DPRD serta seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Solok.
            Diakui atau tidak, ternyata masih banyak nagari di bumi penghasil ‘Bareh Tanamo’ ini yang masih tertinggal atau terisolir, meski mantan Bupati Syamsu Rahim sudah terlanjur basah mendeglerasikan Kabupaten yang juga dijuluki sebagai Kabupaten penghasil buah markisa ini terbebas pada dari keterisolasian pada penghujung jabatannya. Masyarakat daerah terisolir yang ada di Kabupaten Solok, seperti  di seluruh nagari yang ada di Kecamatan Tigo Lurah dan Hiliran Gumanti, berharap penuh kepada duet Bupati Gusmal dan Yulfadri Nurdin, dengan visi dan misinya, yakni Program Empat Pilar bisa membawa daerah mereka bisa menikmati ‘kemerdekaan’ yang sebenarnya. Artinya, mereka bisa menikmati indahnya berkomunikasi dengan technology HP, Listrik, menikmati siaran televisi atau sarana kesehatan dan pendidikan yang layak. Bagi pemerintah daerah terpilih, jangan ada lagi pameo yang berbunyi bahwa nagari tertinggal hanya akan menjadi basis untuk  meraup atau mendulang suara sebanyak-banyaknya, namun setelah terpilih lalu ‘icak-icak indak tau’, seperti yang banyak dikeluhkan selama ini oleh masyarakat setempat, baik untuk anggota dewan atau Bupati dan Wakil Bupati terpilih, hampir kepada seluruh pejabat yang sempat mengunjungi nagari mereka.
            Kita berharap, Bupati Gusmal yang waktu berkuasa pada priode 2005-2010 lalu, sempat mengusung Program Tiga Pilar bersama Wabub Desra Ediwan. Namun setelah dipercaya kembali oleh masyarakat pada Pilkada langsung di penghujung tahun 2015 silam, Bupati Gusmal bersama Wakil Bupati Solok terpilih, yulfadri Nurdin, menyempurnakan Program Tiga Pilar itu menjadi Program Empat Pilar, untuk menyulap pembangunan di Kabupaten Solok. Program Empat Pilar ini, diharapkan akan mampu membuka Kabupaten Solok dari seluruh penjuru mata angin, agar bisa membawa nagari tertinggal sejajar dengan nagari lain, terutama masalah infrastruktur jalan dan jembatan. Selain itu, pemerintah juga harus serius menempatkan tenaga pendidik secara merata di daerah tersebut, agar masyarakatnya bisa menikamti pendidikan yang berkarakter,  termasuk tenaga kesehatan, kalau ingin Kabupaten ini benar-benar maju, bukan hanya di media, tetapi di dunia nyata, seperti harapan masyarakat di daerah teringgal tersebut. Dulu, Kabupaten Solok ini sempat jaya dan menjadi daerah tujuan study banding bagi Kabupaten lain di Indonesia, meski sekarang yang terjadi sebaliknya. Selain itu, visi Bupati yang akan memajukan dunia pariwisata sebagai sektor andalan, tentu akan tercapai kalau Bupati menempatkan orang-orang yang faham dan punya ide serta bisa menjemput bola ke pusat agar bisa membangun Pariwisata Kabupaten Solok, yang keindahannya bak syorga yang turun dari langit, bahkan jauh lebih indah dari Bali. Selain punya modal besar, pembangunan pariwisata juga harus didukung oleh SDM yang handal. Untuk Pariwisata ini, sebenarnya dinas terkait tidak perlu study banding ke daerah lain di luar pulau Sumatera. Cukup berkaca saja ke kota tetangga Sawahlunto, yang pemerintahnya bisa menjadikan kota mati menjadi kota hidup. Lalu pertanyaannya, kenapa kita selama ini menjadikan Kabupaten yang hidup ini menjadi Kabupaten mati. Siapa yang harus di salahkan, DPRD atau Pemerintah masa yang sudah lalu?
            Bupati H. Gusmal pernah berkata, inti dari membawa daerah terisolir keluar dari keterbelakangannya adalah infrstruktur jalan. “Kalau jalan yang layak sudah ada kenagari tersebut, maka dengan sendirinya masyarakat akan mudah berhubungan ke kota, baik untuk menjual hasil pertanian atau untuk pergi berobat. Itulah yang akan menjadi tugas kita depannya, dan itu harus didukung oleh DPRD,” ucap H. Gusmal. Kalau pemerintah punya konsep yang jelas untuk membangun, maka dijamin seluruh daerah akan terbebas dari ketertinggalan. Empat Pilar Pembangunan yang dicanangkan Gusmal-Yulfadri, diantaranya adalah  Pilar Pendidikan, Pilar Kesehatan, Pilar Ekonomi Kerakyatan dan Pilar Penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan Baik, tentunya berdasarkan Adab Basandi Syara’ dan Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Untuk mencapai Program Empat Pilar ini agar tidak muluk-muluk, Bupati harus memilih atau menempatkan SKPD  sesuai keahliannya. Selain itu para Kepala SKPD ini harus mempunyai loyalitas yang tinggi kepada Bupati, kalau tidak hasilnya juga akan nihil, sebab mereka bekerja bukan untuk masyarakat, tetapi Asal Bapak senang alias ABS saja.

            Dari Empat pilar tersebut, Bupati tampaknya akan lebih fokus ke masalah pendidikan, sebab dengan belajar manusia akan pintar dan kalau manusia kurang pendidikan, mereka akan terus merasa hebat. Orang yang terus belajar, mereka akan merasa semakin sedikitlah yang baru dia ketahui. Dengan pendidikan, kualitas manusia yang dihasilkan pasti akan jauh lebih baik, termasuk SDM, etika, pola pikir atau cara bertindak, jelas akan terlihat yang kedepannya mereka bisa diharapkan membangun Kabupaten Solok dari seluruh penjuru mata angin tadi. Artinya, bagaimana membangun Solok dengan berkoordinasi dengan daerah tetangga, seperti Solok selatan, Pesisir Selatan, kota Padang, Tanah Datar, Sawahlunto, Sijunjung dan juga Dhamsraya, sehingga Kabupaten Solok nantinya lahir istilah, tidak satu jalan menuju Solok, bisa dari seluruh penjuru mata angin, tengara, barat, utara, selatan atau timur. Semoga! (Penulis adalah Wartawan Harian KORAN PADANG Tinggal di Solok)

Saturday, 12 November 2016

Permainan Tradisionil Anak Minang Yang Mulai Punah

Permainan Tradisionil Anak Minang Yang Mulai Hilang

            SETIAP suku yang ada di Wilayah Republik Indonesia, bahkan dunia, memiliki ciri khas permainan yang berbeda. Di Ranah Minang atau Sumatera Barat, dari zaman dulu dikenal dengan beraneka ragam permainan anak, yang saat ini keberadaannya sudah mulai jarang terlihat.
            Anak-anak yang lahir di Sumatera Barat, saat ini lebih suka permainan ala modren yang dikeluarkan oleh pabrik, ketimbang menciptakan permainan itu tersebut, sehingga terkesan menciptakan anak kurang kretaif. Bermacam permainan tradisional anak yang ada dan melagenda di Ranah Minang sejak dulu, sejak tahun 90-an mulai tampak menghilang. Sebut saja permainan kaki panjang yang terbuat dari kayu, sepak tekong, sepak rago, Badia Batuang, dakak-dakak, terompa panjang atau tangkelek, galuak, main kelereng, cak bur, gasiang dan lainnya kini jarang lagi ditemukan. Keberadaanya pun terancam punah.
            Menurut anggota Komisi I DPRD Sumbar, Ahmad Rius, SH, menghilangnya permainan tradisionil di Sumatera Barat, selain disebabkan oleh pengaruh teknology yang masuk sampai kepelosok nagari, juga disebabkan tidak ada lagi generasi penerus yang tertarik kepada permainan yang dinilai sudah kuno dan tidak sesuai lagi sama perkembangan zaman. “Anak-anak lebih cendrung kepermainan moderen, seperi main mobil-mobilan keluaran pabrik, main robot, pistol-pistolan atau bermain komputer. Sehingga mereka menilai permainan yang diciptakan sendiri dianggap sudah kuno, padahal itu menciptakan ide kreatif buat sianak,” jelas Ahmad Rius, politisi dari Partai Amanat Nasional tersebut. Punahnya permainan tradisional Minangkabau, seiring bergesernya budaya dan gaya hidup masyarakat Minang itu sendiri, mungkin akan berdampak kurang baik buat budaya Minang.
            Zaman dahulu sebelum tahun 90-an, anak-anak di Ranah minang bermain dengan menggunakan alat yang seadanya. Tetapi sesuai perkembangan waktu, anak-anak Minang kini bermain dengan permainan-permainan berbasis teknologi yang berasal dari luar negeri dan buatan mesin. Sementara permainan tradisionil tidak lagi mereka kenal. Bila kita bicarakan kepada anak sekarang apa itu Sepak Tekong, mereka akan terheran dan menganggap itu kuno. Lalu siapa yang bersalah? Meski saat ini permainan asli Minang sudah jarang kita temui, namun kita masih ingat dibeberapa nagari di Sumatera Barat yang belum tersentuh arus modrenisasi, masih ada permainan tersebut kita temui. Permainan Lore, misalnya, dibeberapa sekolah SD di daerah pedalaman, masih ada anak-anak yang memainkannya. Permainan yang bisa menggunakan batu atau pecahan kaca dengan cara melempar arah kebelakang, maka kalau batu atau pecahan kaca yang kita lempar berada di dalam kotak yang terdiri dari 8 kotak, maka jelas kotak itu menjadi milik kita. Orang lain kalau ingin masuk ke kotak berikutnya, harus melompati kotak kita dan tidak boleh menginjaknya. Pelajaran yang bisa kita petik dari main lore ini, jelas kita menghargai hak orang lain dan tidak boleh kita sembrono. Begitu juga dengan permainan badia batuang, disini ada nilai kkebersamaannya. Sementara permainan sipak tekong, mengajarin kita belajar mandiri. Perminan Sipak berarti sepak dan tekong berarti wadah kaleng atau tempurung pengganti tekong. Permainan sipak tekong adalah asli tradisional Minang. Permainan ini juga sudah sangat langkas kita lihat, dimana permainan ini terdiri dari beberapa orang dan yang menjaga tekong adalah yang terkena hukuman dan harus patuh sampai dia bisa menangkap permainan lain dari persembunyiannya dan langsung berlari ke tekong yang diletakan pada pusat garis lingkaran sebelum ditendang oleh yang lain. Ketika sudah banyak yang tertangkap, mereka dapat bersembunyi kembali saat ada teman menyelamatkan mereka dengan menyepak tekong keluar dari lingkaran setelah berhasil mengibuli si penjaga. Dari permainan ini, juga terdapat unsur sportifitas yang tinggi dan bisa membentuk watak sianak berjiwa sportif. Permainan lain yang sudah langka kita lihat adalah permainan patok-lele. Permainan tradisional yang satu bukan hanya ada di Ranahminnag, tapi hampir ada disebahgian wilayah Rwpublik Indonesia. Permainan ini membutuhkan satu kayu kecil sepajang 40 Centimeter, satu kayu sepanjang telunjuk dan sebuah lubang yang dibuat di atas tanah. Cara bermainnya adalah dengan mencongkel dan memukul bilah kayu kecil dengan kayu panjang dengan berbagai macam gaya. Jarak pukulan dihitung dengan bilah kayu yang dipakai, mau besar atau kecil tergantung kesepakatan sipemain. Permainan dilakukan bergantian dengan akumulasi skor masing-masing pemain atau tim. Pemain yang menang akan mendapatkan hadiah berupa dikongkak atau digendong oleh pihak yang kalah.

            Namun segala jenis permainan tradisionil ini, tampaknya akan tinggal kenangan, kalau di sekolah, di nagari atau para orang tua tidak lagi bisa mengajarkan atau mencertakan kepada generasi berikutnya. Kalau tidak, kita yakin permainan asli minang ini akan tinggal kenangan (penulis adalah wartawan KORAN PADANG tinggal di Solok)

Monday, 7 November 2016

Wacana Full Day School Membuat Kegaduhan Dikalangan Pendidik

Oleh: WANDY

Wacana Full Day School Membuat Kegaduhan Dikalangan Pendidik


            WACANA Perpanjangan Jam Sekolah atau “Full Day School” oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy, mendapat berbagai reaksi dari kalangan masyarakat.
            Penolakan rencana Full Day School bagi siswa SD dan SMP sederajat di seluruh Tanah Air, bukan hanya datang dari pulau Jawa dan Sulawesi. Tetapi penolakan jam sekolah sama dengan jam kerja, juga datang dari Kabupaten Solok. “Kalau anak-anak berada seharian penuh di sekolah, kapan lagi waktunya untuk bermain, mengaji atau bersosialisasi dengan lingkungan. Kalau itu terjadi, maka saya yakin dalam satu tahun banyak anak-anak yang akan setres berat,” terang Ketua LSM Perak, Yemrizon Dt Penghulu Nan Sati. Ditambahkan Yemrizon, meski sebenarnya niat dari Bapak Menteri itu sangat baik, tetapi hal itu dirasa belum cocok diterapkan di Indonesia, karena hanya akan berdampak pada penindasan kemerdekaan sianak. Selain butuh pengkajian yang dalam, Full Day School juga harus mempertimbangkan kearifan lokal dan bukan hanya berdasarkan analisa yang lahir dari luar negeri yang belum tentu cocok di Indonesia.
            Sementara menurut salah seorang orang tua murid, Darlamsyah, jika Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan tetap memaksakan Full Day School di sekolah-sekolah, maka pembuat kebijakan jelas telah keliru dan berbahaya. “Anak-anak itu cepat jenuhnya, maka kalau ini tetap dipaksakan, saya yakin mental sianak akan cepat down dan ini hanya baru cocok bagi siswa yang berada di kota besar, sebab orang tua mereka sibuk setiap hari,” tambah Darlamsyah.
           Selain itu, beberapa jam setelah wacana Menteri Muhadjir Effendy, mengeluarkan statmennya, maka mulailah usaha penolakan bermunculan datang dari masyarakat di seluruh tanah air. Sebenarnya Menteri Muhadjir mengapungkan gagasan sekolah sehari penuh dengan alasan memperpendek waktu siswa berada di luar sekolah. Karena itu, siswa mendapat tambahan jam untuk belajar pendidikan karakter budi pekerti dari para guru. Muhadjir memperoleh ide itu dari negara Skandinapia yakni Finlandia, yang dinilai memiliki SDM terbaik. Di sana, siswa diberikan pendidikan karakter. Selain itu, dengan adanya Full Day School, maka akan bisa membantu guru mendapatkan tambahan jam mengajar menjadi 24 jam per minggu hingga memenuhi syarat mendapatkan sertifikasi guru. Selain itu, dengan adanya Full Day School, maka para siswa dinilai akan lebih aman jika berada di sekolah sampai orang tua menjemputnya. Namun bagi masyarakat yang tinggal di kampung atau pedalaman yang biasanya dunia anak adalah dunia bermain, maka hal ini jelas akan merampas hak dan kemerdekaan sianak. Dijelaskan Muhaijir, gagasan penerapan konsep sekolah sehari penuh didasarkan pada program Nawa Cita Presiden Joko Widodo. Pada program itu, pendidikan dasar diharuskan terdiri atas komposisi 70 persen karakter dan 30 persen pengetahuan. Sedangkan pendidikan menengah pertama 60 persen karakter dan 40 persen pengetahuan. “Seharusnya Bapak Menteri Pendidikan mengkaji lagi wacana tersebut atau memtakan sekolah mana saja yang bisa diterapkan sama dengan orang kerja, baru mengimplementasikan perpanjangan jam sekolah. Bisa saja nanti anak orang diurus, sementara anak guru sendiri di rumah dilupakan,” ungkap tokoh pemerhati politik Kabupaten Solok, Nova Indra.

           Beberapa guru dan Kepala sekolah yang diminta pendapatnya di Kabupaten Solok, malah rata-rata menolak rencana Full Day School tersebut. “Guru itu kan mengajar mengeluarkan suara, kalau lebih dari 6 jam sehari, maka jelas akan menguras fisik dan tenaga sang guru, apalagi kebanyakan dari guru adalah wanita. Selain itu, anak-anak cepat merasa jenuhnya,” terang salah seorang guru di Kabupaten Solok. Dirinya berharap agar penggantian Menteri jangan ganti pula kurikulum. Sebenarnya kurikulum tidak usah gonta ganti, hanya saja kalau ada yang kurang, mari kita sempurnakan agar tidak selalu menimbulkan kegelisahan. Semoga rencana Full Day School di sekolah-sekolah di tanah air, bisa dikaji ulang oleh pengambil kebijakan dan juga memperhatikan kearifan lokal***

Thursday, 3 November 2016

Duo Polisi Yang Menjadi Ajudan Setia Bupati dan Wakil Bupati Solok

Hendri alias Ambon dan Eky Ardinal alias Ajo, keduanya merupakan anggota intel Polres Arosuka yang direkrut menjadi ajudan Bupati dan Wakil Bupati Solok


Pengabdian Duo Sahabat Untuk Kabupaten Solok
SOLOK, KRM- Sosok Eky Ardinal dan Hendri, mungkin tidak akan asing lagi bagi para pejabat dan PNS serta masyarakat di Kabupaten Solok. Namun tidak banyak yang mengetahui nama Eki Ardinal atau Hendri. Sebab pejabat lebih kenal dengan sebutan Hendri dengan panggilan Ambon dan Eky Ardinal dengan sebutan Ajo.

Kalau kita menanyakan Hendri atau Eky Ardinal, mungkin masyarakat atau pegawai di Pemkab Solok akan bertanya, siapa ya? Tapi kalau kita menanyakan nama Ajo atau Ambon, orang akan langsung menunjuk yang bersangkutan.

Hendri atau Ambon merupakan Ajutan Bupati Solok yakni H. Gusmal Dt Rajo Lelo, SE, MM dan Eky Ardinal alias Ajo merupakan Ajutan pribadi Wakil Bupati Solok. Hendri diapnggil Ambon karena memang berkulit agak sedikit gelap sementara sebutan Ajo karena Eky Ardinal memang asli dari Pariaman dan merupakan rang sumando urang Solok. 

Baik Ambon maupun Ajo, sudah menganggap Bupati dan Wakil Bupati Solok seperti keluarganya sendiri. Banyak suka dan duka yang dijalani bersama Bupati dan Wakil Bupati Solok. 

Apalagi mereka bedua sudah bersama semenjak masa kampanye Pilkada tahun 2015 silam. Sebelumnya, anggota intel Polres Arosuka ini dipercaya oleh Polres Arosuka untuk mengawal calon Kepala Daerah. Namun setelah Bupati Gusmal dan Wakil Bupati Solok, Yulfadri Nurdin terpilih menjadi kepala daerah, keduanya tetap dipercaya menajdi ajudan pribadi Bupati dan wakil Bupati Solok.

“Saya mengalami pengalaman suka dan duka bersama Wakil Bupati Solok. Tapi saya merasa senang bersama beliau dan Bapak Wakil Bupati Solok itu sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri,” ungkap Eky Ardinal, ajudan Wakil Bupati Solok, yang baru melepas masa lajangnya bersama gadis Solok, Shena Amanda, sekitar dua Minggu silam. Ajo dikenal sedkit pemalu, sementara Ambon alias Hendri merupakan sosok pendiam dan pekerja keras (wandy) 

Monday, 31 October 2016

Bersihkan PDAM Kabupaten Solok Dari Praktek Mafia Busuk


OLEH: WANDY

Bersihkan PDAM Kabupaten Solok Dari Praktek Mafia Busuk

            Pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Solok, saat ini  menjadi salah satu Perusahaan Daerah yang banyak mendapat kritikan tajam dari masyarakat bumi penghasil bareh tanamo tersebut.
             Selain pelayanan kurang baik ke masyarakat, PDAM dinilai masih mempunyai banyak masalah, mulai dari air sering mati, kotor, tagihan yang tidak sesuai dengan pemakaian hingga menaikan tarif belum pada waktunya. Selain itu, adanya desas desus bahwa di tubuh PDAM sendiri masih belum kondusif hingga semua merasa menjadi Dirut. Kritikan tajam juga dilontarkan oleh anggota DPRD Kabupaten Solok atas buruknya pelayanan PDAM tersebut. Bahkan anggota DPRD Kabupaten Solok, Dendi Sag, pernah meminta Bupati Solok untuk segera mengganti Dirut PDAM  yang dinilai tidak bisa membenahi ‘problema dan dilema’ yang ada di tubuh PDAM.
“Saya melihat pelayanan PDAM Kabupaten Solok masih jauh dari harapan masyarakat, sebab masih banyak keluhan yang saya terima termasuk masalah karyawan yang bekerja di PDAM tidak kompak. Selain itu, masyarakat masih banyak menggeluhkan masalah pembayaran yang membengkak dan besarnya tarif tagihan asal dibuat-buat saja oleh karyawan PDAM, masak air tidak dipakai dan mati, tetapi bayarnya masih diatas Rp 90 ribu. Itu kan sama saja lebih dari 30 kibik dan tidak profesional,” tutur Patris Chan, kemaren. Patris Chan berharap agar pengganti Dirut PDAM Kabupaten Solok bisa lebih baik dan transfaran. Selain itu, karyawan yang tidak jujur di PDAM dan tidak membantu tugas Dirut, agar segera diganti saja. “PDAM samapi sekarang masih kita subsidi dari pemerintah, tapi kita tidak berharap mereka untung dulu, namun untuk membenahi ditubuh PDAM sendiri saja itu sudah bagus,” tutur Patris Chan, yang menyebutkan tahun ini saja lebih dari Rp 750 juta disubsidi.
           Sebelumnya Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Solok, Dendi, SAg, meminta Bupati Solok, untuk segera memecat atau mengganti Dirut Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Solok, Eri Kardo, karena dinilai tidak becus dalam bekerja dan dinilai pelayanan PDAM selama dipimpin Eri Kardo, semakin menurun. “Kita dari DPRD sebagai yang mewakili masyarakat banyak, meminta kepada Bapak Penjabat Bupati Solok, untuk segera mengganti Dirut PDAM, karena dinilai lamban dalam mengatasi segala persoalan yang ada di PDAM dan bahkan kepemimpinan Dirut yang sekarang malah banyak menimbulkan masalah dikalangan pelanggan PDAM,” tutur Dendi.

Sementara Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok, meminta agar Dirut yang baru nantinya menata kembali karyawan di tubuh PDAM baik yang ada di kantor atau yang di lapangan dan juga kantor cabang. “Kalau air dikelola secara baik, saya yakin akan meraih keuntungan karena modalnya hampir tidak ada. Selain itu untuk menata air PDAM, libatkan masyarakat nagari dan walinagari yang dilalui PDAM. “Saya masih dengar masih banyak rumah yang tidak pakai meteran dan masih banyaknya masyarakat yang belum membayar karena diduga ada permainan dengan karyawan lapangan PDAM,”sambung Yondri Samin.
Yondri Samin juga menambahkan, untuk mengatasi agar pelanggan PDAM tidak sering mengeluh, dibutuhkan seorang pemimpin yang energik, minimal untuk kesehatan PDAM itu sendiri. “Tahun ini DPRD sudah menganggarkan dana Rp 750 juta, harapannya tidak usah PDAM bisa beruntung dulu, minimal dana sebanyak itu untuk kesembuhan PDAM saja. Tapi saat ini sering terdengar keluhan bahwa PDAM suka menaikan tarif yang memberatkan masyarakat,” tutur Yondri Samin.
          Direktur PDAM Kabupaten Solok Eri Kardo menyebutkan, sejak Juli 2015 memang sudah diberlakukan. Kenaikan tarif pembayaran air PDAM berdasarkan Surat Keputusan Bupati Solok Nomor 500-280-2015. Tarif dasar air yang sebelumnya Rp 900 naik menjadi Rp 1.200. Eri tak menampik, jika sampai hari ini pihaknya belum maksimal memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kondisi ini tidak lepas dari sarana dan persediaan air yang terdapat di Kabupaten Solok. “Kalau masyarakat bertanya, kenapa air sering mati, karena sumber air kita terbatas dan perlatan kita seperti pipa sudah banyak yang tua,” tutur Eri Kardo. Sementra untuk pemasangan tarif PDAM bagi warga yang baru memasang, akan dikenakan tarif Rp 1,4 juta. Sementara terkait masih adanya prilaku dari oknum karyawan PDAM yang masih suka berprilaku nakal di lapangan, Dirut PDAM ini berjanji akan menyelidiki sampai ke lapangan dan akan menindak tegas kalau memang ada indikasi berbuat nakal (penulis adalah wartawan KORAN PADANG)***

Label

Apakah Anda Puas Setelah Membaca Berita Di Kabar Ranah Minang